Seorang pria setengah baya mendatangi seorang ULAMA yg terkenal arif, dan bijak “tuan, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ulama arif pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak tuan, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ulama meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”banyak sekali di antara kita yang alergi
Pembaca mulia,
kata “malu” dalam bahasa Arab adalah الحياء /al-hayaa`/.
Kata ini, merupakan derivat dari kata الحياة /al-hayaah/, yang artinya adalah “kehidupan”. Selain الحياء, contoh derivat lain kata الحياة adalah حيا /hayaa/, yang artinya “hujan”. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.
Dalam bahasa Arab, al-hayaah “kehidupan” mencakup kehidupan dunia dan akhirat.
Jawabannya adalah karena orang yang tidak memiliki rasa malu, ia seperti mayat di dunia ini, dan ia benar-benar akan celaka di akhirat.Lalu, kembali ke pokok bahasan utama, apa kaitan al-hayaa` “malu” dengan al-hayaah “kehidupan”?
Sebuah artikel menarik berkaitan dengan syariah dan hikmah didalamnya. Dan tahukah anda bahwa negara barat itu maju disebabkan telah menjalankan syariat ? simak aja artikelnya :
Kata syari’ah disebutkan dalam surah Al-Maidah:48, Allah swt. berfirman: ”likullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajaa (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.)” Berdasarkan redaksi ayat, nampak bahwa kata syari’ah atau syir’ah artinya aturan. Namun dalam Islam secara definitif kata syari’ah identik dengan aturan dari Allah swt. Dengan kata lain mengikuti syari’ah artinya mengikuti aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah swt. sebagai pemilik langit dan bumi sebenarnya telah
Suatu ketika saya menerima email dari seorang kawan, subyeknya: Rencana Allah pasti indah. Begini isinya:
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ibu lakukan. Ibu menerangkan bahwa beliau sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut:
"Anakku lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”
Sebuah artikel yang mengkritisi pendapat seorang "Islam liberal", Sumanto Al Qurtuby, yang berpendapat bahwa seks bebas halal asal dilakukan suka sama suka. Berikut artikel yang di tulis oleh Adian Husaini :
Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan
Dalam Upacara adat kirab satu Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jumat dini hari (18/12/2009), mewarnai pergantian tahun baru Islam 1431 Hijriyah di Kota Solo, Jawa Tengah, warga berebut kotoran kerbau (kerbau bule keturunan Kyai Slamet, kerbau yang dikeramatkan oleh kalangan Keraton Surakarta dan rakyatnya) yang dikirab. Mengapa mereka melakukan demikian ? karena warga percaya bahwa kotoran kerbau tersebut membawa berkah bagi mereka.
Satu hal persamaan dari dua kejadian nyata tersebut, yaitu perbuatan tersebut didorong oleh suatu kepercayaan atau keyakinan atau aqidah (menurut istilah dalam islam). Kepercayaan atau keyakinan akan melahirkan perbuatan. Keyakinan yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik. Sebaliknya, kepercayaan yang buruk akan melahirkan perbuatan yang buruk pula. Ya, cukuplah dengan keyakinan untuk menilai mengapa seseorang itu melakukan perbuatan baik atau buruk. Apabila seorang istri/suami, anak, teman, atasan melakukan sesuatu perbuatan baik atau buruk, maka jangan tanya apa latar belakang perbuatan itu dilakukan, tapi tanyalah keyakinanannya mengapa perbuatan itu dilakukan.
Rindu kami padamu yaa Rasulullah saw sebagaimana kerinduan Umar Bin Khattab padamu :
Demi ibu-bapakku, wahai Rasul !
Sungguh, ada sebuah pangkal pohon kurma yang sering engkau jadikan sebagai tempat berpidato di hadapan manusia..
Ketika manusia semakin bertambah banyak, engkaupun mengambil mimbar untuk menyampaikan pesan-pesanmu. Karenanya, betapa sedih pangkal pohon kurma itu berpisah denganmu…
Kemudian, ketika engkau letakkan tanganmu di atasnya, barulah ia tenang. Umatmu lebih merindukanmu, wahai Rasul, karena engkau berpisah dengan mereka….

